Factfulness oleh Hans Rosling

Factfulness, sebuah buku best seller yang memberikan pandangan terhadap dunia dengan sudut pandang yang lebih luas dan jauh berbeda dari biasanya. Buku international best seller ini ditulis oleh Hans Rosling seorang ahli kesehatan masyarakat internasional. Selama penulisan buku ini Hans Rosling dibantu oleh putranya Ola Rosling dan menantunya Anna Rosling. Buku ini juga telah banyak di review oleh tokoh-tokoh terkenal dunia seperti Barack Obama, Bill Gates dan tokoh lainnya.

Buku ini bisa dikatakan salah satu buku yang memiliki keunikan dalam penyajiannya, karena disajikan dengan pengembangan kuesioner yang telah diujikan kepada beberapa orang. Pertanyaan-pertanyaan itu juga diberikan secara acak kepada simpanse. Pemberian pertanyaan secara acak kepada tokoh-tokoh masyarakat seperti orang yang bekerja di lembaga dibandingkan dengan pertanyaan yang diberikan kepada simpanse didapatkan bahwa simpanse lebih banyak benar menjawab pertanyaan terhadap fakta-fakta yang sesungguhnya terjadi di dunia. Buku ini menegaskan bahwa kita cenderung melihat dunia dengan mata bukan dengan fakta.

Poin pertama adalah adanya paradigma kesenjangan, yaitu kita melihat dunia seperti dua mata uang yang berbeda kesenjangan yang terjadi seperti negara kaya dan miskin, rendah dan tinggi, kulit hitam dan kulit putih, padahal sesungguhnya diantara kesenjangan itu terdapat hal-hal lain yang selama ini tidak dimunculkan di permukaan. Terdapat pertanyaan dimana sebagian besar penduduk dunia tinggal, rata-rata menjawab di negara berpendapatan rendah padahal fakta yang sesungguhya adalah di negara berpendapatan sedang.

Pandangan berikutnya adalah naluri terhadap negativity yaitu kita cenderung melihat sesuatu yang negatif dan terseret kepada drama yang tak dilandaskan fakta, seperti anggapan bahwa penduduk miskin dunia bertambah, faktanya kemiskinan terakhir kali terjadi pada tahun 1962 dan terus menurun setelahnya. Poin selanjutnya adalah straight line, kecenderungan dalam menarik garis lurus, maksudnya disini adalan cenderung untuk mengkonstankan fakta yang sudah ada tanpa pertimbangan sesuatu itu bisa saja bertambah maupun berkurang dalam pertumbuhan setiap waktunya. Poin ini seperti kasus pertumbuhan jumlah anak yang di pandang terus bertambah dengan fakta bahwa pertumbuhan anak adalah berkurang dikarenakan kemampuan wanita untuk hamil juga semakin berkurang.

Poin keespat adalah “FEAR” ketakutan yang meghantui, kita hidup didunia seolah selalu dihantui dengan rasa takut akan bencana perang kecelakaan pesawat dan musibah-musibah lainnya. Sesungguhnya memang hal itu tidak dapat kita pungkiri akan tetapi dalam penanggulangannya semakin kesini dunia semakin lebih baik dalam memberikan penanggulangan bencana dan juga antisipasi perang. Selanjutnya adalah ukuran yaitu kita terpaku hanya karena suatu ukuran tertentu padahal ada banyak faktor yang mempengaruhi suatu komponen kehidupan. Kasus yag dibahas disini adalah perkiraan manusia terhadap distribusi jumlah penduduk didunia yang dimulai dari Benua Amerika, Eropa, Afrika dan Asia, asumsi kita bahwa jumlah manusia (miliar) adalah 2 miliar penduduk Amerika, 1 miliar Eropa dan afrika dan 3 miliar Asia. Padahal faktanya adalah secara berturut-turut dengan angka 1,1,1,4 miliar.

Poin selanjutnya adalah generalization yaitu memukul rata keseluruhan yang terlihat seperti anggapan bahwa masih kurangnya kesehatan dan masih banyaknya anak-anak yang belum divaksin. Faktanya adalah sudah lebih dari setengah anak telah divaksin dan kesehatn didunia juga sudah jauh membaik walau di benua afrika masih dengan angka yang kecil untuk derajat kesehatan, namun beberapa negar di afrika sudah jauh lebih baik tingkat kesehatannya seperti negara Tunisia dan Ghana. Sehingga kita tidak bisa berasumsi dan mengeneralisasikan hanya karena melihat beberapa daerah saja. Selanjutnya poin yang dibahawa adalah destiny yaitu takdir, anggapan bahwa kaum laki-laki diusia 30an lebih banyak mendapatkan pendidikan dibanding perempuan dengan selisih angka yang sangat jauh. Faktanya kaum perempuan juga telah banyak yang mendapatkan pendidikan dengan usia 30 seperti laki-laki hanya dengan selisih angka jikalau laki-laki mendapatkan pendidikan selama 10 tahun dan perempuan selama 9 tahun dalam usia 30 tahun.

Single, poin ini adalah asumsi bahwa hewan langka yang semakin punah kedepannya kan semakin punah, sesungguhnya anggapan itu sangatlah salah besar dikarenakan saat ini banyak lembaga-lembaga dan relawan dari seluruh dunia ingin berkoontribusi untuk penangkaran hewan langka agar terjaga kehadirannya dan keturunannya. Kebun binatang juga salah satu cara dalam penangkaran hewa-hewan yang dilindungi, donasi pun juga sangat banyak untuk hewan-hewan langka yang dilepas dialam dengan penjagaan dan pemliharaan yang terkontrol.

Blame, asumsi untuk menyalahkan seperti asumsi bahwa pemakaian lisrtrik didunia yang diasumsikan manusia baru mencapai 20 % faktanya pemakaian listrik didunia sudah mencapai angka 80 %. dan yang terakhir adalah naluri terhadap “urgency” yaitu keterdesakan bahwa saat ini kita ditakutkan akan temperatur dunia yang semakin hari semakin panas seolah media terlalu mendramatisir hal yang seharusnya bisa diberikan pandangan yang jauh leboh positif dari seharusnya seperti fokus kepada bagaimana mitigasinya, penanggulangan, dan langkah yang harus kita lakukan untuk mengurangi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan tersebut. Sehingga dalam memandang dunia kita tidak berfokus pada hal yang negatifnya saja dan terlalu mendramatisir, namun yang kita rasakan seolah dramatisir ini akan hanya dilirik jika yang bermuncul ke permukaan itu adalha antagonisnya padahal sesuatu fakta kenayataan dan kejadian yang positif sangatlah banyak terjadi namun yang dimunculkan ke permukaan hanyalah yang negatifnya saja, sehingga kita peru bijak dalam mencari informasi dan menilai perkembangan dunia kedepannya.


Ikuti webinar bedah buku Intip Diri setiap hari Kamis melalui zoom Pukul 19.30 WIB. Info webinar bisa didapatkan melalui grup whatsapp. Klik disini untuk masuk grupnya

Tentang Penulis

Fadilah Habibul Hamda Ilmu Kesehatan Masyarakat – Linkedin Penulis

Kode Konten: D113

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.