Refleksi Buku The Secret

Salah satu ciri khas kategori buku pengembangan diri adalah judul yang secara gamblang dapat kita prediksi apa isi kandungan di dalamnya, tapi tidak untuk kali ini. Penulis memilih The Secret sebagai judul bukunya, seolah ingin membuat penasaran para pembaca dan menghadirkan sesuatu yang memang secret. Hidup di dunia ini tak terlepas dari sebuah hukum, entah itu hukum agama, sains, sosial dan hukum-hukum lain yang ada. Pada hakikatnya beberapa hukum tersebut saling berkaitan satu sama lain. Tak terkecuali “The Law of Attraction”.  Inilah rahasia besar yang dimaksudkan dalam buku tersebut.
  • Judul               : The Secret
  • Penerbit          : PT. Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun terbit    : cetakan ke 14, Januari 2012
  • ISBN               : 978-979-22-3155-7
Sejatinya manusia adalah makhluk yang terdiri atas jasmani dan rohani. Rohani berasal dari kata roh yang dapat diartikan kondisi jiwa yang memiliki hubungan kepada sang pencipta. Makhluk yang mempercayai adanya Tuhan yang Maha Esa, singkatnya kita sebut makhluk spiritual (beragama). Salah satu ilmuwan yang mengetahui rahasia ini adalah Albert Einstein. Quote terkenalnya ialah “Agama tanpa ilmu adalah buta, Ilmu tanpa agama adalah lumpuh” dari sini dapat kita simpulkan Einstein adalah ilmuwan yang beragama, walaupun beberapa sumber tidak mengetahui kejelasan atas agama seperti apa yang ia anut.   Agama laksana sebuah penyaring untuk kita bisa membedakan mana yang baik atau buruk, boleh dan tidak boleh, benar maupun salah. Lebih dari itu agama adalah suatu pedoman dalam meraih tujuan hidup yang sebenarnya. Agama ialah hal yang kekal abadi karena hidup di dunia hanyalah sementara. Sesuatu yang sementara mengharuskan kita untuk dapat membuat hidup menjadi luar biasa. Itulah wujud atas pertanggungjawaban kita kepada Tuhan bahwa kita bisa mengoptimalkan waktu yang sementara di dunia ini.   Inilah saatnya kita diperkenalkan dengan hukum “The Law of Attraction”. Hukum yang menyatakan “Kemiripan Menarik Kemiripan”, sebagaimana Allah berfirman “Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada Ku” (HR. Muslim). Segala sesuatu yang terjadi di hidup kita disebabkan karena kita yang menariknya. Entah itu hal positif maupun negatif. Hukum ini pun memiliki aturan yang harus ditaati, diantaranya ialah :

Niat dan Fokus

Jika kita niat untuk berkomitmen dengan apa yang kita fokuskan pada hal tersebut maka hukum ini memberikan sesuai apa yang kita inginkan

Hindari kata (jangan, tidak, bukan)

Ditinjau dari sudut pandang psikologi, aturan ini sudah tak asing lagi bagi kita. Gunakan kata positif dalam segala hal maka yang terjadi pun akan positif. “Saya tidak ingin sakit sama artinya dengan saya ingin sehat”, tetapi jika kita perhatikan kembali saya tidak ingin sakit akan berfokus pada rasa sakit itu, berbeda dengan saya ingin sehat maka yang akan menjadi fokus ialah rasa sehat itu sendiri. Inilah mengapa kata-kata sangat berdampak. Berkah dan musibah bisa disebabkan oleh bagaimana kita menggunakan sebuah kata-kata

Hukum ini bekerja sebanyak kita berfikir

Salah satu caranya ialah melalui papan visi, dimana papan ini tertulis suatu target yang akan dicapai. Lebih baik jika dipasang sebuah foto yang mendukung untuk membantu kita memvisualisasikan. Itulah mengapa orang sukses menyuruh kita untuk meletakkan papan visi yang mudah terjangkau oleh mata, karena secara tidak langsung kita akan selalu membaca dan memikirkannya sebanyak mungkin. Afirmasi pun turut serta berlaku didalamnya. Afirmasi ialah pernyataan positif yang ditujukan pada diri sendiri. Afirmasi merupakan bentuk komunikasi antara pikiran sadar dan alam bawah sadar, dengan begitu kita memiliki keyakinan kuat akan suatu hal. Secara keseluruhan hal ini mengingatkan saya akan suatu firman Allah yang berbunyi : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri”. (Qs. Ar-Rad 11) Tak lepas dari sebuah aturan kita pun harus mengetahui bagaimana cara kerja hukum ini supaya segala hal yang terjadi dalam hidup sesuai yang kita harapkan.
  1. Meminta dengan jelas
  2. Mempercayai melalui pikiran, ucapan, tindakan
  3. Menerima dengan merasakan perasaan ketika hal itu benar terwujud
(mensyukuri apa yang sudah kita miliki terlebih dahulu untuk dapat merasakan syukur atas hal yang akan kita miliki) sebagaimana firman Allah QS. Ibrahim 07 “sesungguhya jika kamu bersyukur niscaya akan Kami tambah nikmat kepadamu”

***

Cerita Aladin

Ingatkah kita akan kisah aladin ? yap, sudah tak asing lagi. Cerita tersebut mengisahkan seseorang yang menemukan cangkir ajaib. Apapun yang diminta akan terkabul, sehingga yang dilakukan aladin hanyalah meminta, percaya dan menerima. Hal tersebut tak jauh sebagaimana “Th Law of Attraction” bekerja. Jika dalam dongeng tersebut aladin meminta pada cangkir ajaib maka di dunia ini kita meminta pada sang pencipta.

Pernahkah sebelum tidur kita bertanya, “apakah besok kaki saya mnginjak tanah?” atau pernahkah kita meragukan “nanti kalau saya jalan apakah saya akan melayang?” dapat dipastikan tidak pernah terlintas pikiran semacam itu, mengapa? Karena kita tahu bahwa ada hukum gravitasi yang menjaga kita untuk tetap menginjak tanah. Kita tidak pernah ragu akan hukum tersebut walaupun kita tidak pernah tahu bagaimana hukum gravitasi bekerja.

Sama halnya dengan “The Law of Attraction” ini, kita tidak pernah tahu bagaimana hukum ini bekerja, yang perlu kita lakukan adalah meyakininya.

Kode Konten: D118

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.