Tak Masalah Jadi Orang Introver

Dalam menulis sebuah buku informatif bertema self improvement selalu ada kisah yang melatarbelakanginya. Baik pengalaman pribadi secara langsung maupun tidak langsung. Tak lupa penelitian dengan sedikit eksperimen dilakukan untuk membuktikan atau hanya sekedar mengetes sebuah teori. Itulah pengantar yang tepat dari penulis buku ini, Sylvia Loehken. Masyarakat umumnya mengenal hanya dua jenis tipe kepribadian manusia, yaitu Introvert dan Ekstrovert. Dari judul terlihat bahwa buku ini membahas tentang introvert tapi informasi ekstrovert pun turut disuguhkan sebagai pelengkap.

  • Penulis             : Sylvia Loehken
  • Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan           : kedua, September 2019
  • Tebal                : 305 halaman
  • ISBN                 : 978-602-06-3407-4

POIN 1 : 10 KEKUATAN SOSOK INTROVER (HARTA YANG TERPENDAM)

  • Waspada : mengamati dengan cermat dan berpikir sebelum berbicara
  • Substansi : hanya membicarakan hal-hal yang bermakna
  • Mendengarkan : menyaring informasi dan sikap
  • Tenang : dasar untuk mendapat kosentrasi, relaksasi dan kejelasan
  • Berpikir analitis : membuat rencana dan solusi secara sistematis
  • Mandiri : menjalani hidup sesuai prinsip, tidak terpengaruh oleh pandangan orang lain dan mampu mengobarkan kepentingan sendiri
  • Gigih : dalam mencapai tujuan, mengejar sesuatu dengan sabar dan konsisten
  • Ketrampilan menulis : hal ini menjadikannya pilihan pertama daripada banyak bicara
  • Empati : mengedepankan kepentingan dan kualitas, siap berkompromi, dan mampu menempatkan diri

POIN II : HUBUNGAN INTROVER-EKSTROVER

Sebelum ada buku-buku tentang introvert saya sering sekali mendengar bahwa ekstrovert itu lebih unggul. Jikalau mereka memiliki kekurangan, itu adalah hal yang wajar dan tidak begitu memalukan. Berbeda dengan Introvert, kelebihan jenis tipe kepribadian ini serasa kurang berarti dimata orang-orang. Kelemahan Introvert serasa sesuatu yang berdosa dan tidak bisa dimaafkan bahkan hal yang tidak wajar menurut sebagaian orang. Kita ambil contoh, Ekstrovert adalah orang yang mudah bergaul dan ramah, sedangkan Introvert adalah orang yang kurang bersosialisasi, suka menyendiri dan lebih banyak diam. Waww sesuatu yang sangat berkebalikan, apakah memang demikian? Itulah hal yang akan dibahas detail dalam buku ini.

 

Sangat disayangkan jika para Introvert harus menerima sudut pandang dari penilaian negatif masyarakat yang telah berkembang berabad-abad. Inilah saatnya kaum Introvert menepis dengan membuktikan berdasar fakta supaya kehadiran Introvert turut bernilai. Tak sedikit orang sukses pun berkepribadian Introvert, mulai dari pengusaha, pelukis, aktor, ilmuwan dan masih banyak lagi.

 

Dalam berkeluarga dimungkinkan hidup berdampingan antara introvert dan ekstrovert. Orang tua yang introvert dan anak yang ekstrovert akan sering salah paham serta menimbulkan ketidaknyamanan jika tidak dikomunikasikan. Orang tua harus memberikan pengertian, aturan dan batasan yang jelas suoaya dapat menjalani hidup selaras. Orang tua tahu bahwa anak ekstrovert senang dengan keramaian dan berinteraksi dengan banyak orang, sebaliknya orang tua lebih menyukai situasi yang hening dalam kedamaian maka jalan tengahnya adalah orang tua dapat mengatakan pada anak untuk boleh bermain dan menerima teman-temanya asal tidak terlalu banyak dan terlalu sering. Tentukan jadawal berkunjung dan hari-hari tenang serta bergilir untuk main ke rumah teman yang lain. Ini adalah tindakan yang saling menguntungkan tanpa mengambil hak salah satu kepribadian.

 

POIN III : SETIAP ORANG MEMILIKI KUALITAS INTROVER SEKALIGUS EKSTROVER DALAM DIRI MEREKA

Jepang adalah negara yang terkenal akan budaya membaca. Masyarakat akan memanfaatkan waktu saat antri ataupun menunggu dengan membaca. Suasana terasa hening. Keadaan tersebut membuat si ekstrovert harus bertingkah seperti introvert, atau lebih tepatnya mereka mengurangi sedikit sifat ekstrovertnya. Beda halnya dengan Amerika, negara yang terkenal akan keramaiannya. Introvert harus bekerja lebih keras daripada saat mereka di Jepang.

 

Sebagaian orang memperoleh energi dengan melakukan kontak bersama oranng lain, inilah ekstrovert. Rangsangan berlebih seperti itu akan membuat introvert kehilangan energi. Introvert cenderung memerlukan masa tenang lebih panjang tanpa rangsangan sama sekali sebelum mereka sanggup terjun kembali dalam kesibukan sehari-hari. Bukan berarti introvert tidak butuh keramaian dan kontak dengan orang lain, introvert tetap membutuhkan hanya saja intensitas waktunya lebih sedikit. Begitu pula ekstrovert. Pada dasarnya manusia adalah sosok yang sangat luar biasa, mereka mampu beradaptasi diberbagai situasi.

                                                                        ***     

Tidak satu pun dari kedua tipe ini lebih baik atau lebih buruk. Setiap orang memiliki kualitas ekstrovert dan introvert dalam diri mereka. Pengelompokkan tipe kepribadian kita hanya menunjukkan posisi kecenderungan dan kebutuhan. Semakin kita mengetahui diri kita akan semakin baik untuk memberikan sesuai apa yang kita butuhkan.

Kode Konten: D117

 

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.