The End of Average by Todd Rose

(How we succeed in a world that value sameness)

Buku ini diterbitkan oleh Harper Collins pada tahun 2016. Buku ini menjelaskan secara rinci apa yang salah dengan kata “average”, dan dimana kita merancang segalanya berdasarkan standar dari “average”. Rose menerangkan bahwa faktanya, tidak ada orang yang “average”, atau rata-rata. Masing-masing dari kita unik dan memiliki individualitas/karakteristik yang dapat kita gunakan untuk menjadi sukses di dunia yang hanya menilai kesamaan ini.

Average : rata-rata

Dalam statistika, rata-rata dibuat untuk merepresentasikan suatu data. Misalnya, dalam buku ini disebutkan ada sebuah penelitian yang ingin mengetahui bagian otak mana yang aktif saat mengingat memori. Dari banyaknya hasil scan otak yang diteliti saat tes, peneliti membuat sebuah mapping bagian otak yang rata-rata aktif dari sampelnya saat mengingat memori. Namun, saat ia mencocokkan kembali hasil scan “otak rata-rata” nya dengan hasil scan masing-masing individu dari sampelnya, tidak ada mapping yang benar-benar mirip. Lalu, “otak rata-rata” ini sebenarnya merepresentasikan siapa? Sehingga, rata-rata tidak selalu dapat merepresentasikan suatu data.

Dunia kita terstandarisasi

Saat sekolah, nilai rata-rata kelas sering menjadi acuan untuk hasil belajar kita. Jika di atas rata-rata maka sudah baik, jika di bawah rata-rata maka masih perlu ditingkatkan lagi. Namun, banyak dari kita yang sadar bahwa sebenarnya nilai di sekolah pada satu atau bahkan seluruh mata pelajaran, ranking, skor IQ, dan lain lain tidak merepresentasikan kemampuan seseorang yang sebenarnya. Ironinya, sistem pendidikan dibuat berdasarkan rata-rata. Contohnya, ada Ujian Standarisasi Nasional untuk masuk ke sekolah yang lebih tinggi. Kemudian buku teks, model dan metode pengajaran yang dibuat berdasarkan analisis kemampuan murid yang diambil rata-ratanya, berharap murid dapat memahami dan berhasil di kemudian hari. Namun, sistem pendidikan yang dibuat berdasarkan rata-rata sebenarnya menghancurkan banyak potensi besar anak.

Bakat kita bergerigi

Seseorang dapat memiliki skor IQ yang sama tetapi memiliki kemampuan yang sangat berbeda. Tidak ada orang yang pintar di semua hal, tidak ada orang yang bodoh di semua hal, dan tidak ada pula orang yang rata-rata di semua hal.

Mitos kepribadian

Pernahkah mendengar tipe kepribadian Introvert dan Ekstrovert? Menurut Rose, kepribadian itu adalah mitos. Sebab kita sebenarnya berganti kepribadian sesuai dengan situasi dan kondisi. Orang dengan tipe kepribadian Introvert bisa menjadi pembicara yang luar biasa, begitu pula dengan orang dengan tipe kepribadian Ekstrovert bisa menjadi pelukis hebat dimana memerlukan tingkat konsentrasi luar biasa tanpa berbicara dengan orang lain selama berjam-jam.

Jadi gimana…

Terima keunikkan dalam diri kita. Kita unik jadi kita tidak perlu khawatir akan orang lain yang sudah lebih dulu sukses. Kita tidak perlu khawatir akan nilai dalam suatu mata pelajaran yang di bawah rata-rata. Kita hanya perlu belajar, memperbaiki kesalahan yang kita buat, mencari keunikkan dalam diri kita, terus berusaha dan memaksimalkannya.

Tentang Penulis

Zalfa sedang mempelajari cara memperoleh potensi besar dalam dirinya. Zalfa dapat ditemukan di Linkedin

Normal
0

false
false
false

EN-ID
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:\”Table Normal\”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:\”\”;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:\”Times New Roman\”,serif;
mso-fareast-language:EN-US;}

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.