You Do You: Discovering Life Through Experiments and Self-Awareness

Buku yang berjudul You Do You: Discovering Life Through Experiments and Self-Awareness yang ditulis oleh Fellexandro Ruby ini diterbitkan oleh PT Gramedia cetakan ketujuh pada September 2021. Poin utama yang dibahas dalam buku ini adalah mengenai kesadaran diri (self-awareness) dan cara untuk meraihnya. Selain itu, di dalamnya terselip cerita pribadi penulis selama berproses menemukan kesadaran dirinya.

Sesuai judulnya, pembahasan lebih dominan terkait dengan perjuangan penulis dalam meniti karier dalam hidupnya. Mulai dari segi bisnis, relasi, dan finansial, semuanya tertuang secara rapi dan runut. Penulis bermaksud untuk menyampaikan bahwa untuk menjadi sukses dalam kehidupan, seseorang harus memulainya dari nol dan bertekad dalam meraihnya melalui perjalanan pencapaian kesadaran diri secara konsisten.

Terdapat 5 bab yang tercakup dalam pencarian dan penemuan kunci kesadaran diri seorang Ruby, yaitu:

  • Bertemu Dengan Diri Sendiri
  • Bertemu Dengan Ikigai
  • Designing Your Life
  • Building Your New Net Worth
  • Principles

Penulisan setiap bab-nya dibumbui dengan kutipan yang kebanyakan bernuansa pengembangan diri (self-development) dengan gaya penulisan khas dari penulisnya.

  • Mengenal Diri = Percaya Diri

Seringkali kita langsung menginternalisasi atau menelan bulat-bulat apa yang dikatakan oleh motivator sebagai rujukan utama kita untuk mengembangkan dan mengenali diri sendiri. Padahal, untuk mengungkapnya, kita hanya butuh satu “kunci” yang tepat agar “singa” dapat terbangun dalam diri yang kita anggap sama sekali tidak memiliki kemampuan dan kesuksesan apapun. Pengenalan diri ini berbanding lurus dengan kepercayaan diri seseorang. Artinya, semakin kita mengenal diri kita melalui pola pikir (mindset), cara belajar, konsistensi, serta manajemen fokus dan energi, maka kita termasuk ke dalam 15% orang yang semakin baik kesadaran dirinya (How Well Do You Know You? Are You the 85% or 15%?)

  • Kekuatan Ikigai

Miskonsepsi yang jamak ditemui pada anak muda atau milenial masa kini salah satunya adalah menyamakan antara talenta dengan passion. Walaupun secara sekilas keduanya terlihat mirip, namun ternyata substansi dan definisinya berbeda. Talenta adalah kemampuan yang terdapat dalam pembawaan diri seseorang sejak lahir. Sedangkan, passion adalah ketika kita menyukai suatu kegiatan dan memiliki kapabilitas dalam melakukannya. Jadi, perbedaannya terletak pada eksistensi daripada kompetensi itu sendiri. Dan pada akhirnya, asal dari kompetensi itulah yang akan menjadikan kita apakah menjadi seseorang yang generalis (kompeten di banyak bidang) atau spesialis (kompeten di satu bidang secara spesifik). Ikigai merupakan sebutan untuk titik sentral kesadaran diri yang meliputi banyak faktor internal dan eksternal, seperti: kesukaan (what you love), kebutuhan (what the world needs), kemampuan (what you are good at), dan penghargaan (what you can be paid for). Dengan analisis secara mendalam akan keempat hal yang tergambar dalam diagram ikigai sebagai konsep mengada (a reason for being) yang berasal dari Jepang ini terhadap diri kita, akan tertuju kepada satu titik utama, yakni ikigai itu sendiri atau kesadaran diri.

  • Konstruk Diri

Setelah bertemu dan memiliki ikigai seseorang dihadapkan pada 2 pilihan, yaitu mengikuti kata hati (bekerja sesuai talenta) atau mengikuti idealisme (bekerja atas keinginan dan profesional). Dalam tahap ini, kegagalan dan jatuh bangun menjadi hal yang wajib hukumnya ada. Ini dikarenakan kegagalan dan kerja keras akan membangun/mengonstruk dirinya agar lebih kuat dan lebih siap menyambut kemenangan yang manis. Pada tahap ini juga seseorang akan mengalami yang namanya: Quarter Life Crisis. QLC diasosiasikan dengan keputusasaan, kebingungan, ketidaksiapan, serta merasa minder (insecurity) dengan orang lain. Dominansi rasa minder inilah yang seringkali menggelayuti para milenial entah itu dalam hal prestasi, karier, akademik, dsb. bahkan hingga secara tak sadar membuat perbandingan diri (self-comparison) dengan temannya, tetangganya, bahkan orang yang tak dikenalinya. Oleh karena itu, di umur 20-40 inilah penting bagi seseorang memiliki resiliensi agar bertahan menghadapi itu semua dan mencapai apa yang diinginkannya.

  • Nilai dan Merk Personal

Tingkat agregat penjualan sebuah produk makanan sangat tinggi lantaran rasa dan kemasan yang ditawarkan berhasil menarik hati para target pasarnya. Lantas, apa persamaannya dengan diri kita? Ya, kualitas. Kualitas di sini meliputi segala atribusi yang melekat pada diri kita, mulai dari: perilaku, performa, kemampuan, dan citra diri (personal brand). Keempat aspek tersebut merupakan merk personal yang harus terus dikembangkan apabila ingin menaikkan taraf hidup ke tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, ada aset berharga (net worth) yang patut dijaga, yakni: kesehatan, uang, dan relasi. Ketiga hal inilah yang tidak kalah penting untuk membuat seseorang bertahan (survive) di era yang semakin kompleks dan modern ini. Sehingga, dengan menciptakan aset diri (net worth) yang baik, maka dapat dipastikan seseorang memiliki kualitas diri yang baik pula.

  • Prinsip Hidup

Bak air di daun talas yang dapat terombang-ambing, sebaliknya seseorang harus memiliki prinsip agar tak diombang-ambing oleh terpaan hidup dan orang lain. Hal ini dapat dilakukan dengan senantiasa menerapkan pemikiran progresif (growth mindset) dan bukan pemikiran jumud (fixed mindset). Pemikiran progresif dimiliki oleh mereka yang terus memperbaiki dan meningkatkan kemampuan, talenta, profesionalitas, dan berani keluar dari zona nyaman serta terus mencoba hal baru. Adapun selanjutnya ialah privilese. Privilese bukan hanya soal mereka yang dari awal berasal dari keluarga sultan, paras rupawan, dan otak cemerlang, namun privilese diperuntukkan bagi mereka yang terus bekerja keras mendapatkan apa yang mereka impikan. Dengan mengintegrasikan kesemua hal tersebut, maka seseorang bukan hanya dikatakan visioner, namun juga ia telah menemukan ikigai-nya yang sejati.

Konklusi dari keseluruhan penjelasan tersebut mengilustrasikan proses dan hasil yang kentara dengan penyingkapan atas ikigai yang terdapat dalam diri. Dapat dipahami bahwa peningkatan diri didapat ketika seseorang berhasil menemukan ikigai, berproses secara konsisten, serta pantang menyerah. Dengan begitu, diharapkan seseorang dapat menjadikan dirinya lebih berkualitas dan menebar inspirasi bagi kebanyakan orang yang belum menemukan ikigai-nya.

Ditulis oleh : Dany Randa Firdaus

Kode Konten: D123

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.